BENCI
(Dislike)
Tiap
manusia dikaruniai Allah dengan dua macam rasa didalam jiwanya, rakni rasa
Cinta dan rasa Benci. Rasa Cinta itu nikmat, sebab ia merupakan kelezatab jiwa,
begitu kata Hujjatul Islam Imam Al-Ghzali. Beliau berkata dalam Kitabnya, “Cinta
(mahabbah) adalah kecenderungan jiwa padanya karena keberadaannya sebagai suatu
kelezatan.” Menututnya, kecintaan kepada Allah merupakan tujuan utama, termasuk
derajat tertinggi, kerinduan, kasih sayang dan keridhaan (akan) mengikuti.
Tentang
kebencian, beliau berkata, “kebencian adalah kebalikannya, yakni ketidaksukaan
jiwa karena keberadaannya sebagai suatu yang tidak cocok baginya.”
Dalam
QS Al-Baqarah(2): 165, Allah swt berfirman, “Dan diantara manusia ada
orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah ; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang sangat
cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim
itumengetahui ketika mereka melihat sisksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan
itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya
mereka menyesal).”
Firman
Allah Sw:
Dan
ketauhuilah plehmu bahwa dikalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan
benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi
Allah menjadikan kamu cinta kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.
Mereka itulah orang-orang uang
mengikuti jalan yang lurus. (QS Al-Hujurat(49):7).
Dalam
ayat yang lain Allah menyuruh kita agar kebencian yang kita miliki tidak
menutup kebenaran sehingga kita tidak jatuh kedalam tindakan yang tidak adil.
Benci
adalah lawan dari cinta. Keduanya niscaya dimiliki oleh setiap orang. Keduanya
terkadang menunjukan keanehan-keanehan tertentu yang sulit dipahami. Para pujangga
berkata bahwa cinta itu sulit dilukiskan dengan kata-kata. Cinta hanya dapat di
rasakan oleh para pencinta. Bahkan, cinta tidak untuk dikaktakan, tetapi
ditanamkan di dalam jiwa.
Jika
cinta bersifat demikian, maka demikian pulalah rasa benc itu. Ketika orang
berkata, “Aku benci... aku benci (terhadap ini dan itu)”, maka belum tentu ia
dapat menjelaskan bagaimana rasa kebencian itu. Yang ia tahu bahwa ia benci
terhadap sesuatu atau seseorang. Kebencian memang bisa dikatakan sebagai
kebencian, tetapi tidak semua orang menyadari bagaimana proses kebencian bisa
tertanam dalam jiwanya.
a.
Keunikan
As-Syahid Murtadha Muthahhari
pernah berkata dalam salah satu bukunya, “Semakin seseorang mempunyai kecintaan
yang lebih pada sesuatu, pada saat yang sama, timbul kebencian yang lebih pula
pda sesuau yang lain.”
Apa
yang dikatakan oleh Muthahhari ini menarik. Memang, begitulah keunikan dua
perasaan ini. Dua perasaan yang saling bertolak belakang ini terkadang
mempunyai tingkat intensitas yang sama, yang dirasakan oleh seseorang. Bukti
yang menunjukkan keberadaan ini ada pada peristiwa sejarah: Para pembesar
Quraisy begitu cinta terhadap hartanya, cinta pula terhadap harta benda dan
kedudukannya, semakin besar pula kebencian mereka terhadap Rasulullah Saw.
b.
Jika jiwa Memendam Kebencian
Jika Jiwa telah memendam
kebencian, maka kebencian tersebut bisa menutup akal dalam melesatkan kearifan
dan menutup hati untuk mendapatkan kebijaksanaan. Ini terjadi manakala perasaan
benci sudah tidak pada tempatnya. Jika kebencian sudah tidak pada
tempatnya,maka hal ini akan menyebabkan kondisi jiwa mwnjadi sakit.
Sakit jiwa karena keberadaan rasa
benci tersebut adalah sebagai berikut:
-
Jiwa akan sulit menemukan dan
membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
-
Jiwa pun akan cenderung menutupi
kebenaran,menghilangkannya bahkan membelakanginya.
-
Jiwa menyuruh seseorang agar
berlaku tidak adil.
-
Jiwa memandang seseorang dengan
sebelah mata, selalu mencurigai oranh lain, mendorong ketamakan,fitnah, dendam,
dengki, dan seterusnya.
Jiwa bisa demikian sebab jiwa telah
terperosok pada kekotoran tubuh. Orang yang memendam kebencian tidak akan
pernah hidup secara tenang dan damai. Jiwanya sering bergolak. Jiwanya
mendedehkan amuk dan kemarahan. Darahnya kotor dan mengental. Darah kotor dan
kental ini menutupi akal dan hati hingga keduanya tidak bisa melesatkan
kebijakan-kebijakan.
c.
Akibat kebencian
Seperti
halnya api, begitu pulalah kebencian. Api bisa membakar segala sesuatu dan
kebencian bisa membakar kebenaran. Kebencian adalah sifat perbuatan setan dan
iblis, sebab setan dan iblis tidak pernah mendorong kebenaran.
Kebenaran kerakibat buruk pada orang
yang membenci itu sendiri maupun orang yang dibenci. Para pembunuh karakter
biasanya menggunakan penyakit ini untuk melesatkan kebencian kepada orang lain.
d.
Melawan Kebencian
Kebencian bisa dilawan dengan
cinta. Menunjukkan cinta kepada orang yang benci ibaratnya menundukkan nyala
api dengan guyuran air. Begitulah cinta mengguyur kebencian. Hanya orang-orang
yang akal dan hatinya membatu saja yang tidak bisa tunduk dengan cinta hingga
hilangnya kebencian.
benci (Sumber
: Manajemen Jiwa,Muhammad Muhyiddin:196)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar